Nikah Siri Dan Usia Dini Di Sarolangun Fokus Bahasan GN-AKSA.

Tampak proses sosialisasi GN AKSA di kantor DP3A Sarolangun, (Penajambi.com/Husnil Aqili).

Sarolangun, Penajambi.com – Dinas DP3A-P2 Provinsi Jambi bekerjasama dengan dinas DP3A Kabupaten Sarolangun, Selasa (25/06), menggelar sosialisasi gerakan nasional anti kejahatan seksual terhadap anak (GN- AKSA), di pendopo kantor DP3A Kabupaten Sarolangun, Jambi.
Hadir dalam acara tersebut, Pihak dinas DP3A-P2 Provinsi Jambi yang diwakili Agus Santoso Kasi perlindungan anak, Kabid Perlindungan anak Sarolangun, tokoh adat, tokoh agama, tokoh Pemuda dan masyarakat.
Dalam sosialisasi tersebut, dilakukan tanya jawab bersama peserta mendengar masukan serta keluhan terkait kondisi yang terjadi di wilayah Sarolangun.
Arifin Warga Singkut, dalam diskusi kala itu mengatakan bahwa di Kecamatan Singkut ada beberapa warnet yang kerap menjadi tempat tongkrongan para pelajar bahkan hingga tidak kenal waktu hingga larut malam.
Kondisi tersebut menurut dia sangat menghawatirkan bagi masa depan para generasi, sebab bisa saja akan berdampak tidak baik bagi sikologi anak tersebut.
“Di tempat kami singkut itu pak ada beberapa warnet yang tidak kenal jam buka siang malam, ini tempat tongkrongan para pelajar kalau malam rame hingga larut malam. Saya pikir ini bahaya kalau sudah tidak kenal waktu,” katanya.
“Yang kita khawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti narkoba, maaf nonton porno dan jam belajar terganggu dan lain sebagainya. Nah ini kami sebagai warga menyarankan agar pemerintah ambil sikap, razia atau juga mengatur jam buka Warnet terhadal pelaku usaha,” katanya menerangkan.
Sementara itu, Rakub salah seorang yang mengaku sebagai pengurus Lembaga Adat Melayu Jambi Desa Batu Ampar Kecamatan Pauh Sarolangun, saat diberikan giliran memberikan masukan lebih mengarah persoalan pernikahan anak usia dini serta nikah siri.
“Saya jujur saja, kadang kasihan melihat kondisi hari ini, sering sekali dan ini bukan lagi rahasia umum, persoalan pernikahan dibawah umur maaf bisa jadi karena kecelakaan. Tentu mahu dan tidak mahu kalau sudah kecelakaan harus dinikahkan, kalau tidak akan berdosa dan berdampak pada psikologi anak dan keluarga terhadap sosial juga,” katanya.
“Adalagi persoalan nikah siri atau nikah bawah tangan kalau bahasa orang sini, inikan kadang kita kasihan dengan anak keturunan mereka kalau tidak disikapi, contoh tidak punya kartu nikah, tentu otomatis anaknya nanti tidak bisa buat KTP dan KK serta akte, banyak hal lain yang bisa menjadi mudhorat bagi mereka,” katanya lagi.
“Nah ini masalah sudah banyak sekali terjadi, kami minta petunjuk saran dan arahan dari bapak-bapak dari provinsi ini,” harapnya dengan kalimat tanya,???.
Sementara itu, ditanggapi Agus Santoso Kasi Perlindungan Anak dinas DP3A P2 Provinsi Jambi terkait pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua penanya tersebut.
“Kalau persoalan pernikahan anak usia dini itu memang dilarang, untuk yang lebih detail itu mungkin jika terjadi di wilayah kita konsultasi dengan KUA setempat sebab mereka yang punya kewenangan,” katanya.
“Disamping itu, ada peran penting orang tua dalam mengawasi lingkungan dimana anak tersebut berada, apalagi saat ini kadang kecanduan tekhnologi sehingga disalah gunakan, kerap terjadi kecelakaan dan tidak sampai ke hujung. Nah disinilah peran penting orang tua dalam menjaga dan mengawasi mereka,” katanya.
Dia berharap tidak hanya mengawasi melalui lingkungan saja, namun dalam rumah tangga bagaimana menanamkan aqidah keimanan dan ketaqwaan terhadap keluarga,” orang tua harus jadi contoh dan bisa memberikan contoh yang baik pula,” tandasnya.
Sementara Kadis DP3A Sarolangin melalui Mislawati Kabid Perlindungan Anak saat diwawancarai mengaku bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan oleh pihak dinas terkait dari provinsi. Hanya saja mereka sebagai pasilitator dengan tujuan agar masyarakat kita mendapatkan pencerahan akan pentingnya menjaga dan membina anak.
“Karena di sarolangun ini pelecehan terhadap anak ditempat kita ini masih cukup tinggi, jadi kegiatan ini bertujuan meminimalisir terjadi hal yang mengancam masa depan anak-anak kita,” katanya.
Selain itu, tidak hanya persoalan itu saja melalui kegiatan ini juga kata dia diharapkan peran serius orang tua dalam mendidik anak-anak mereka, termasuk juga peran masyarakat dan semua pihak untuk peduli akan generasi kedepan.
“Kalau bisa kejadian yang seperti ini bisa hilang, sebab kalau sudah terjadi sulit untuk memulihkan sikologi anak tersebut, ditambah lagi sikologi sosialnya. Sebelum itu terjadi makanya kami dari DP3A Sarolangun terus turun ke kecamatan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, pemuda, ormas dan OKP untuk ikut andil dalam persoalan tersebut,” katanya.
Menjawab persoalan warnet yang kian marak ini,
“Kalau soal itu nanti kami coba koordinasi dengan dinas terkait POLPP dan dinas pendidikan serta aparat TNI dan Polri, kasihan juga anak-anak kalau seperti ini terus, mereka mungkin karena usia belum dewasa mungkin tidak tahu kalau berlebihan dan salah menggunakan tekhnoligi bisa bahaya, tapi kita yang paham tentu wajib mengingatkan anak-anak kita,” katanya.
Penulis : Husnil Aqili
Editor : Amarullah Koto

Leave a Reply

Next Post

2 Orang CJH Sarolangun Ditunda Berangkat Ketanah Suci

Rab Jun 26 , 2019
Ilustrasi/Net. Sarolangun, Penajambi.com – Bulan Agustus mendatang menjadi hari yang ditunggu-tungu oleh 214 orang calon jamaah haji asal kabupaten tahun 2019 ini. Pasalnya setelah bertahun lamanya menunggu tercapai juga keinginan untuk mengunjungi tanah suci. Saat diwawancara Kakan Kemenag Syatar mengatakan, meskipun akan diberangkatkan di bulan agustus namun masih belum ada […]