Persoalan Pemilu Kian Kompleks, JaDI Jambi Siap Berkontribusi | | PENA JAMBI

Persoalan Pemilu Kian Kompleks, JaDI Jambi Siap Berkontribusi

Jumat, 20 September 2019 | 07:40 WIB

pena101

Prosesi Deklarasi JaDI Jambi.


JAMBI – Dewasa ini persoalan pemilu tidak lagi hanya berkutat dengan personalan mata pilih, soal money politic, soal pelanggaran pemilu, soal pencalonan. Tetapi lebih dari itu, persoalan pemilu lebih kompleks. Misalnya persoalan politik identitas bahkan isu politik selalu membawa sentimen penggunaan isu agama, sehingga menimbulkan konflik.
Hal ini dikatakan Presidium Nasional Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI), Juri Ardiantoro, saat menghadiri deklarasi Jaringan Demokrasi (JaDI) Provinsi Jambi pada Rabu, 18 September 2019, di Hotel Golden Harvest, sekitar pukul 14.30 Wib.
Persoalan inilah yang saat ini yang harus dihadapi oleh masyarakat, termasuk menjadi kewajiban bagi JaDI. Menurut Juri, di media sosial masyarakat cenderung membuat grup atau kelompok dengan orang-orang satu kelompok, satu daerah, satu dukungan, kalau terdapat dalam grup berbeda dukungan mulai ditinggalkan.
 
Baca juga : Mantan Penyelenggara Pemilu Bersatu Deklarasikan JaDI Jambi
 
Seringkali, kata Juri lagi, apa yang diterima dari grup tersebut sesuai dengan dukungan langsung disebarkan tanpa dibaca lebih dulu, sedangkan kalau bukan dari dukungan yang sama langsung ditinggalkan.
“Ruang publik kita sekarang ini semakin sesak. Apalagi di tahun politik ini, kita banyak dibanjiri permainan politik di media sosial. Padahal kita ketahui, isu politik di media sosial selalu dipelintir oleh pihak tidak bertangung jawab, sehingga sesuatu yang sifatnya hoaks malah dianggap benar,” terang Juri Ardiantoro, yang kini juga menjadi Tenaga Ahli Utama Kedeputian V (Bidang Politik dan Pengelolaan Isu Polhukam) Kantor Staf Presiden.
Dengan terbentuknya, JaDI, yang menjadi tempat berkumpulnya para mantan penyelenggara Pemilu dari seluruh Indonesia, disamping sebagai wadah bersilaturahmi serta bertukar pikiran untuk kepentingan bangsa, tentunya untuk memperkuat demokrasi.
“Fokus utama kami di JaDI itu menjadi organisasi yang membantu memperkuat proses demokrasi di dalam Pemilu,” terang Presidium JaDI Nasional, Juri Ardiantoro.
Menurutnya, JaDi memilki peran strategis yang akan dilakukan antara lain adalah melakukan diskusi tentang isu-isu aktual kepemiluan dan juga pada isu demokrasi lainnya. Menurut dia, terbentuknya JaDI bukan untuk menjadi saingan apalagi menyerocoki dari penyelenggara pemilu akan tetapi menjadi mitra untuk sama-sama mensukseskan Pemilu. Malah, kata Juri, di Jakarta dan Sulawesi antara penyelenggara dan pengurus JaDI sudah berbagi peran.
“Saat pemilu Pilkada di Jakarta dan Sulawesi urusan sosialisasi dan bimbingan bagi penyelenggara adhoc diserahkan oleh penyelenggara pemilu kepada JaDI. Jadi disinilah letak kerjasama mitranya,” ujar Juri.
Gubernur Jambi melalui Staf Ahli Gubernur JambI Asraf saat memberikan sambutan menyambut baik terbentuknya organisasi Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Jambi. Asraf berharap dengan terbentuknya JaDI Provinsi Jambi bisa memperkuat demokrasi di Provinsi Jambi.
“Kita sangat mendukung dan mensupport terbentuknya JaDI Provinsi Jambi,” ujar Asraf saat membacakan sambutan gubernur.
Di tempat yang sama, Nuraida Fitri Habi, Presidium JaDI Provinsi Jambi menyatakan, JaDI Provinsi Jambi sudah lama dicanangkan untuk deklarasi, saat baru terlaksana saat ini.
Mantan komisioner KPU Provinsi Jambi dua periode ini menyatakan, terbentuknya JaDI Provinsi Jambi baik sebagai ajang silaturahmi sesama purna penyelenggara pemilu, juga hadir untuk memperkuat demokrasi di Provinsi Jambi.
Ibu dua anak ini mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak, baik dari JaDI Nasional, Gubernur Jambi, Polda Jambi, termasuk penyelenggara baik dari KPU Provinsi Jambi maupun KPU Kabupaten/Kota.
“JaDI tidak hanya mendorong terlaksananya Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (luber-jurdil) tapi juga pada tata kelola pemerintahan yang baik,” ujar wanita yang sarat pengalaman organisasi ini.
Pernyataan Fitri disampaikan saat membacakan naskah deklarasi, yang berbunyi; “Demi pengabdianku untuk menegakkan keadilan, integritas, dan tata kelola pemerintahan yang baik, menjadi nilai utama, kemajuan demokrasi Indonesia. Kami, yang pernah mendedikasikan diri sebagai penyelenggara pemilu menyatakan terbentuknya, Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Provinsi Jambi. Sebagai wadah untuk memperkuat demokratisasi, yang ada di Provinsi Jambi”.
Untuk diketahui berikut nama mantan komisioner KPU dan Bawaslu yang ikut tergabung kedalam kepengurusan JaDI Provinsi Jambi, yaitu Pahmy Sy, Ribut Suwarsono, Nuraida Fitri Habi, Asriyadi, Mudarakah, Sudirman, Suroso Nendra, Mustaqim, Aisyah, Indra Lesmana, Erwan, Muhammad Aris, Riance Juskal, Arief Lesmana Yoga, Aprizal, Kardinata, Zurni, Zawawi, Thoriq Kurniawan, Raden Syahruddin, Anwar Sadat, Lony Chaniago, Maryam, dan masih banyak lagi mantan komisioner yang ikut bergabung.
(Nil)
Posted in

Leave a Reply

Baca Juga